Laman

Kamis, 28 Juli 2011

Memasuki Era Merek Global

Memasuki Era Merek Global PDF Cetak E-mail
Kamis, 28 Juli 2011 09:35
Globalisasi seakan-akan membuat dunia ini terbentang luas tanpa ada hambatan mengenai batasan negara, budaya, dan pasar. Keadaan ini menyebabkan terbukanya banyak kesempatan baru, jaringan yang semakin luas, bergesernya industri pabrik oleh bisnis digital di banyak negara, dan terjadi perubahan kebutuhan tenaga kerja.

dunia_mrkHal ini jelas terlihat dari makin banyaknya brand-brand global hadir di tengah masyarakat. Mulai dari bisnis waralaba seperti McDonald’s, KFC, Burger King, Starbucks, hingga toko seperti Circle-K dan 7-Eleven.

Keadaan seperti itu secara tidak langsung membawa perspektif baru dalam dunia bisnis saat ini, terutama untuk bisnis lokal yang sedang berkembang. Banyak bisnis lokal yang secara instan langsung mengadopsi pakem globalisasi, ada yang ternyata cukup berhasil, dan ada juga yang tidak.

Apa yang membuat banyak merek global bisa bertahan lama di tengah masyarakat? Eksistensi sebuah merek global tidak terlepas dari kemampuannya mengemas kultur globalnya dan diadopsi dengan nilai-nilai lokal serta membangun hubungan emosional dengan konsumen lokal.

Merek dapat dianalogikan sebagai manusia, mereka juga punya personalitas, karakter dan keunikan masing-masing yang menjadi faktor pembeda. Untuk bisa menjalin relasi yang baik dengan orang lain, kita perlu memahami dan mempelajari karakter orang itu.

Pemahaman mengenai halhal kecil seperti tutur kata, sifat, hobi, dan karakter orang tersebut dapat menentukan sejauh mana kita dapat menjalin relasi dengan orang itu. Prinsip ini sama halnya dengan sebuah brand internasional.

Untuk bisa bertahan di pasar lokal, sebuah merek perlu mewujudkan perspektif global dalam konteks lokal. Tentu saja bukan dengan memaksakan nilai-nilai globalisasi agar bisa diterima di lokal. Tapi perlu memahami nilai-nilai lokal dan kultur yang ada di masyarakat, dan kemudian menyesuaikan diri terhadapnya.

Contohnya seperti apa yang dilakukan McDonald’s. Sebagai merek yang sangat mendunia, McDonald’s sangat berusaha untuk melokalkan mereknya sehingga bisa diterima di masyarakat. McDonald’s menyesuaikan menu restorannya sesuai dengan kultur lokal yang ada.

McDonald’s tidak menyajikan daging babi yang haram bagi kaum muslim di Indonesia, sedangkan ayam goreng dan nasi putih yang merupakan cita rasa lokal tidak ditemukan di Amerika.

McDonald’s di India tidak menyajikan burger dengan daging sapi, hewan yang sangat dipuja oleh masyarakat Hindu. Sebagai gantinya McDonald’s menyajikan Maharaja Mac, burger dengan daging domba yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat India.

Mengembangkan perspektif global berarti berupaya lebih memahami, menerima, dan memberikan wawasan yang lebih luas. Brand yang mampu menjaga eksistensi adalah yang bisa bertindak dalam perspektif lokal.

Bertindak secara lokal berarti melakukan perubahan menyesuaikan dengan kultur, budaya dan hal-hal yang menjadi prioritas masyarakat di mana brand tersebut hadir di tengah-tengah mereka.

Memahami karakter konsumen memungkinkan suatu merek menjalin hubungan emosional dengan konsumen dan kemudian akan berdampak terhadap eksistensi merek.

*) Disarikan dari artikel Daniel Surya, Chairman South East Asia DM IDHOLLAND dan Edy Galaxcy, Brand Designer DM IDHOLLAND yang dimuat di Koran Sindo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar